Analisis Perusahaan Multinasional
By : rosetia
Nama : 1. Endah Lisma Yani
2. Rosetia Sinurat
Kelas : 4EB11
Objek : PT. Acer Indonesia - Dharma Satya Nusantara Tbk
Periode 2014
1.
Likuiditas adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk
memnuhi kewajiban jangka pendek kepada kreditur yang harus segera
dipenuhi. Rasio Likuiditas terdapat tiga rasio, yaitu :
a. Current Ratio
Perbandingan
antara jumlah aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio ini menunjukkan
bahwa nilai kekayaan lancar ada sekian kalinya hutang. Secara
sistematis dapat di rumuskan sebagai berikut :
Current Ratio : Aktiva Lancar x 100%
Utang Lancar
Secara kasar dapatlah dikatakan bahwa bagi perusahaan yang bukan kredit, Current Ratio kurang dari 200% dinyatakan kurang baik, pedoman ini hanya didasarkan pada prinsip hati-hati. (Bambang Riyanto, 2001:26)
b. Quick Ratio
Perbandingan antara aktiva lancar dikurang persediaan dengan utang lancar. Apabila menggunakan
Quick Ratio untuk menentukan tingkat Likuiditas, maka secara umum
dapatlah dikatakan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai Quick Ratio
kurang dari 1:1 atau 100% dianggap kurang baik tingkat Likuiditasnya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Quick Ratio : Aktiva Lancar - Persediaan x 100%
Utang Lancar
c. Cash Ratio
Perbandingan antara kas atau setara kas dengan utang lancar. Rasio ini menujukkan sebarapa besar kemampuan perusahaan melunasi utang lancarnya dengan menggunakan kas atau setara dengan kas yang dimilikinya. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Cash Ratio : Kas atau Setara Kas x 100%
Utang Lancar
Rata-rata industry untuk Cash Ratio adalah 50%, apabila Cash Ratio kurang dari rata-rata industri kondisi
perusahaan kurang baik karena untuk membayar kewajiban masih
memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aktiva lancar lainnya.
2.
Solvabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
keuangannya apabila perusahaan tersebut likuidasi baik untuk kewajiban
jangka pendek dan jangka panjang. Rasio Solvabilitas didasarkan pada dua
rasio, yaitu :
a. Total Assets to Debt Ratio
Perbandingan antara total aktiva dengan total utang, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin besar modal pinjaman (utang) yang digunakan dalam menghasilkan keuntungan dibandingan aktiva yang dimiliki. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Total Asset To Debt Ratio : Total Aktiva x 100%
Total Utang
Apabila Total Assets to Debt Ratio 100%, ini berarti bahwa jumlah kekayaan sama besarnya dengan jumlah utangnya, sehingga perusahaan tidak memiliki kelebihan aktiva diatas utangnya Perusahaan harus mengusahakan Total Assets to Debt Ratio lebih dari 100%, supaya bisa dinyatakan baik (Bambang Riyanto, 2001: 34).
b. Net Worth to Debt Ratio
Perbandingan antara modal sendiri dengan jumlah utang yang dimilik perusahaan. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Net Worth to Debt Ratio : Modal Sendiri x 100%
Total Utang
Penilaian Net Worth to Debt Ratio rasionya 1 : 2. Makin kecil persentasi ini berarti makin cepat makin cepat menjadi insolvabel, karena dengan adanya pengurangan yang kecil saja dari nilai aktivanya, perusahaan sudah dalam keadaan insolvabel (Bambang Riyanto, 2001:34).
3. Aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Berikut beberapa jenis - jenis rasio Aktivitas, yaitu :
a. Inventory Turnover ( Perputaran Persediaan)
Rasio
antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata-rata
persediaan yang dimiliki perusahaan (Munawir, 2004:77). Secara
sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Inventory Turnover : Harga Pokok Penjualan
Persediaan
Rasio
ini menunjukkan seberapa cepat perputaran persediaan dalam siklus
produksi normal. Semakin besar rasio ini semakin baik, karena
dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan cepat.
b. Fixed Assets Turnover (Perputaran Aktiva Tetap)
Rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Fixed Assets Turnover : Penjualan Bersih
Aktiva Tetap
Rasio ini menunjukkan berapa kali nilai aktiva berputar bila diukur dari volume penjualan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik, karena kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan tinggi.
4.
Rentabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan anatara laba
dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata
lain Rentabilitas adalah kemampuaan suatu perusahaan untuk mengahasilkan
laba selama periode tertentu (Bambang Riyanto, 2001:35). Ada dua cara
penilaian Rentabilitas :
a. Rentabilitas Ekonomi
Perbandingan antara laba bersih dengan total modal. Pengertian Rentabilitas Ekonomi sering dipergunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal didalam suatu perusahaan, maka Rentabilitas Ekonomi sering pula dimaksud sebagai kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba (Bambang Riyanto, 2001:36). Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Rentabilitas Ekonomi : Laba Bersih x 100%
Total Modal
b. Rentabilitas Modal Sendiri
Rentabilitas Modal Sendiri atau sering juga dinamakan rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri disatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak (Bambang Riyanto, 2001: 44).
Rentabilitas Modal Sendiri : Laba Bersih Setelah Pajak x 100%
Modal Sendiri
Data Ringkasan laporan Keuangan
PT. Acer Indonesia - Dharma Satya Nusantara Tbk
Periode 2014
(Dalam Jutaan Rupiah)
No.
|
Keterangan
|
2014
|
1.
|
Aktiva Lancar
|
1.820.758
|
2.
|
Utang Lancar
|
2.129.974
|
3.
|
Persediaan
|
672.431
|
4.
|
Kas atau Setara Kas
|
269.731
|
5.
|
Total Aktiva
|
6.117.953
|
6.
|
Total Utang
|
4.288.416
|
7.
|
Modal Sendiri
|
211.970
|
8.
|
Harga Pokok Penjualan
|
340.687
|
9.
|
Penjualan Bersih
|
1.238.413
|
10.
|
Aktiva Tetap
|
1.844.107
|
11.
|
Laba Bersih
|
150.992
|
12.
|
Total Modal
|
1.829.537
|
1. Likuiditas (Dalam Jutaan Rupiah) :
a. Current Ratio : 1.820.758 x 100 % = 85,48 % (Kurang Baik)
2.129.974
Analisis : Pada tahun 2014 Current Ratio sebesar
85,48% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.
0,8548 aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan
menunjukan bahwa current ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik,
karena hasil yang diperoleh kurang dari 200%. Sehingga hal ini
menunjukan bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi hutang lancar yang
dijamin oleh aktiva lancar.
b. Quick Ratio : 1.820.758 - 672.431 x 100 % = 53,91 % (Kurang Baik)
2.129.974
Analisis : Pada tahun 2014 Quick Ratio sebesar
53,91% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.
0,5391 aktiva lancar setelah dikurangi persediaan. Dari hasil
perhitungan menunjukan bahwa quick ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik,
karena hasil yang diperoleh kurang dari 100%. Sehingga hal ini
menunjukan bahwa aktiva lancar perusahaan setelah dikurangi persediaan
tidak mampu menjamin hutang hutang lancar perusahaan.
c. Cash Ratio : 269.731 x 100 % = 12,66 % (Kurang Baik)
2.129.974
Analisis : Pada tahun 2014 Cash Ratio sebesar
12,66% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp.
0,1266 kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan. Dari hasil
perhitungan menunjukan bahwa cash ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik,
karena hasil yang diperoleh kurang dari 50%. Sehingga hal ini
menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang lancar
dengan kas atau setara kas kurang baik.
2. Solvabilitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
a. Total Asset To Debt Ratio : 6.117.953 x 100 % = 142,66 % ( Baik )
4.288.416
Analisis : Pada tahun 2014 Total Asset To Debt Ratio sebesar
142,66% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang dijamin oleh Rp. 1,4266
aktiva perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa Total Asset To Debt Ratio perusahaan dalam kondisi baik,
karena hasil yang diperoleh lebih dari 100%. Sehingga hal ini
menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya
dapat terpenuhi.
b. Net Worth To Debt Ratio : 211.970 x 100 % = 4,94 % ( Insolvabel )
4.288.416
Analisis : Pada tahun 2014 Net Worth To Debt Ratio sebesar
4,94% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang dijamin oleh Rp. 0,0494 modal
sendiri yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan
bahwa Net Worth To Debt Ratio perusahaan dalam kondisi insolvabel, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan perusahaan tidak selalu bergantung kepada modal sendiri.
3. Aktivitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
a. Inventory Turn Over : 340.687 = 0,5066 Kali ( Kurang Baik )
672.431
Analisis : Pada tahun 2014 Inventory Turn Over sebanyak
0,5066 kali yang berarti dalam satu tahun melakukan 0,5066 kali
perputaran persediaan. Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa Inventory Turn Over perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kegiatan penjualan berjalan lambat.
b. Fixed Asset Turn Over : 1.238.413 = 0,6715 Kali ( Kurang Baik )
1.844.107
Analisis : Pada tahun 2014 Fixed Asset Turn Over sebanyak
0,6715 kali yang berarti setiap Rp. 1,00 aktiva tetap dapat
menghasilkan penjualan sebesar Rp. 0,6715. Dari hasil perhitungan
menunjukan bahwa Fixed Asset Turn Over perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan yang rendah.
4. Rentabilitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
a. Rentabilitas Ekonomi : 150.992 x 100 % = 8,25 % ( Kurang Baik )
1.829.537
Analisis : Pada tahun 2014 Rentabilitas Ekonomi sebesar 8,25%
yang berarti setiap Rp. 1,00 dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp.
0,0825 dari total modal yang ada diperusahaan. Dari hasil perhitungan
menunjukan bahwa Rentabilitas Ekonomi perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan suatu perusahaan dengan
seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba kurang
maksimal.
b. Rentabilitas Modal Sendiri : 150.992 x 100 % = 71,23 % ( Baik )
211.970
Analisis : Pada tahun 2014 Rentabilitas Modal Sendiri sebesar
71,23% yang berarti setiap Rp. 1,00 dapat menghasilkan laba sebesar Rp.
0,7123 dari modal sendiri yang tersedia. Dari hasil perhitungan
menunjukan bahwa Rentabilitas Modal Sendiri perusahaan dalam kondisi baik,
karena hal ini menunjukan bahwa jumlah laba yang tersedia bagi pemilik
modal sendiri di satu pihak dengan jumlah modal sendiri yang
menghasilkan laba tersebut dilain pihak.
Sumber :
Perbandingan Sistem Akuntansi Empat Negara
By : rosetia
1. Sistem Akuntansi Keuangan Negara
Amerika
Akuntansi di AS diatur oleh Badan
Sektor Swasta (Badan Standar Akuntansi Keuangan, atau Financial Accounting
Standards Boardi – FSAB), namun sebuah lembaga pemerintah (Komisi Pengawas
Pasar Modal atau Securities Exchange Commission – SEC) juga memiliki kekuasaan
untuk menerapakan standarnya sendiri. Hingga tahun 2002 Institut Amerika untuk
Akuntan Publik bersertifikat, badan sektor swasta lainnya, menetapkan Standar
Auditing. Pada tahun itu Badan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik didirikan
dengan kekuasaan yang luas untuk mengatur audit dan auditor perusahaan publik.
Dalam akuntansi terapan di
Indonesia kita mengenal yang namanya SAK (Standar Akuntansi Keuangan), di
Amerika lebih dikenal dengan nama GAAP (General Accepted Accounting Principal.
Ada 8 Tipe Komponen Laporan Keuangan di Amerika :
- Lap Manajemen
- LapAuditor Independen
- Lap Keuangan Primer
- Diskusi manajemen dan analisis hasil operasional dan kondisi keuangan
- Penjelasan mengenai kebijakan akuntansi dengan dampak yang paling kritis pada laporan keuangan
- Catatan atas laporan keuangan
- Perbandingan data keuangan selama 5 atau 10 tahun
- Data triwulan terpilih.
Pengukuran akuntansi Pengukuran
dengan dasar akrual sangat luas dan pengakuan transaksi dan peristiwa sangat
bergantung pada konsep penandingan. Jika perubahan dalam praktik atau prosedur
terjadi, maka harus diungkapkan.
2. Sistem
Akuntansi Keuangan India
Sebelum pemerintahan Inggris
menguasai di India , India diperintah oleh kerajaan independen, yang paling
terkenal adalah Mughal Empire . Prinsip ekonomi yang digunakan masih sederhana
dan berpijak pada aturan kekaisaran. Pendapatan bagi kerajaan diekstraksi
terutama dari sektor pertanian dalam bentuk pajak tanah dan dinilai sebagai ”
pangsa tetap ” dari produk tersebut. Hal ini berlaku sampai Inggris muncul pada
abad ke-17 dan melakukan reorganisasi seluruh sistem ekonomi yang ada.
Berdasarkan periodisasi zaman diatas, dengan menekankan pada Zaman penjajahan
dan kemerdekaan, Perkembangan akuntansi India lebih dekat dengan akuntansi
eropa atau lebih tepatnya Inggris.
Sumber utama standar Akuntansi
Keuangan di India adalah undang-undang perusahaan dan profesi akuntansi. Th
1949 dibentuk Institute of Chartered Accountans of India, yang bertanggung
jawab mengambangkan standar akuntansi keuangan India. Th 2006, pemerintah
mengumumkan untuk memperkenalkan peraturan baru, yaitu IFRS, dan institusi
akuntansi menanggapi kemungkinan tersebut dengan mempelajari penerapan IFRS seacara
utuh di India.
Karena yang diterapkan di India
berasal dari Inggris, standar akuntansinya memusatkan pada kebutuhan informasi
daripara investor. Pada tahun 1949, ICAI (Institute of Chartered Accountants in
India) dibentuk sebagai organisasi nasional dari akuntan yang telah terdaftar
di India. Kemudian ASB (Accounting Standard Board) didirikan untuk merumuskan
standard akuntansi untuk membantu dewan ICAI dalam menciptakan dan merubah
standar akuntansi di India.
Laporan keuangan terdiri atas neraca dua tahun,
laporan laba-rugi, laporan arus kas, dan kebijakan akuntansi dan catatan.
Perusahaan yang tidak terdaftar hanya perlu menyiapkan laporan intinya saja,
akan tetapi bagi perusahaan yang terdaftar harus menyiapkan laporan gabungan
dan laporan inti.
Pengukuran
Akuntansi : Anak perusahaan digabungkan ketika induk
perusahaan memiliki saham lebih dari
setengah kemampuan voting atau mengontrol pengaturan komposisi dewan direktu
3. Sistem Akuntansi Keuangan Meksiko
Meksiko memiliki panutan dalam hal
standar akuntansi yang digunakan. Standar akuntansi yang digunakan oleh meksiko
ialah IASB, bagi meksiko IASB merupakan panduan dalam menyelasaikan
permasalahan mengenai akuntansi yang terjadi.
Aturan yang diterapkan oleh negara
meksiko dengan ifrs (international Financial Reporting Standards) terdapat
kesamaan dalam sistem akuntansinya, terutama pada kerangka dasar penyusunan
laporan keuangan, diantaranya ialah: Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan
Perubahan Ekuitas Pemegang Saham, Laporan Perubahan Dalam Posisi Keuangan, dan
Catatan Atas Laporan Keuangan. Sedangkan Meksiko tidak menganut Laporan Arus
Kas dalam kerangka dasar penyusunan laporan keuangannya.
Patokan akuntansi yang diterapkan
oleh negara Meksiko masih mengikuti pengaruh yang lama ialah yang berasal dari
Amerika Serikat dan pengaruh yang terbaru ialah dari IASB (International
Accounting Standard Board), sehingga praktik pelaporan keuangan pada negara
tersebut selalu berorientasi pada keadilan.
Pengukuran
Akuntansi
Ada beberapa metode yang digunakan dalam pengukuran
akuntansi antara lain:
- Metode ekuitas digunakan untuk apabila terdapat pengaruh, tetapi bukan kendali yang umumnya berarti besarnya kepemilikan berkisar antara 10 hingga 50 %.
- Usaha patungan dapat dikonsolidasikan secara proporsional atau dicatat dengan menggunakan metode ekuitas.
- Meksiko telah mengadopsi Standar Akuntansi Internasional no.2 mengenai transaksi mata uang asing.
- Metode akuntansi pembelian dan penyatuan kepemilikan untuk penggabungan usaha dapat digunakan, tergantung pada keadaannya.
Jika mayoritas pemegang saham
perusahaan yang diakuisisi tidak terus mempertahankan kepemilikan dalam usaha
tersebut maka metode pembelian yang digunakan, jika ya, metode penyatuan
kepemilikan yang digunakan.
4. Sistem Akuntansi Keuangan Cina
Karakteristik utama akuntansi di
Cina saat ini berasal dari pendirian RRC pada tahun 1949. Cina menerapkan
prinsip-prinsip Marxisme dan pola-pola yang dianut Uni Soviet. Reformasi ekonomi yang dilakukan akhir-akhir
ini mencakup privatisasi termasuk pengalihan perusahaan milik Negara menjadi
perusahaan perseroan yagn mengeluarkan saham. Pada tahun 1992, Kementrian
Keuangan mengeluarkan Standar Akuntansi untuk Perusahaan Bisnis ( Accounting
Standar for Business Enterprises – ASBE ), suatu kerangka dasar konseptual yang
dirancang untuk menuntun perkembangan standar akuntansi yang baru. Efektif per
tanggal 1 Juli 1993, ASBE merupakan sebuah peristiwa besar dalam upaya Cina
untuk menuju sebuah perekonomian pasar.
Motif untuk menerbitkan ASBE adalah
untuk menghamornisasikan praktik akuntansi domestik. ASBE terdiri dari sejumlah bab yang meliputi
prinsip-prinsip dasar, elemen-elemen laporan keuangan, prinsip pengakuan, dan
ketentuan mengenai pelaporan dan pengungkapan keuangan. Komite Standar Akuntansi Cina (China Accounting
Standards Committee–CASC) didirikan pada tahun 1998 sebagai badan berwenang
dibawah Kementerian keuangan yang bertanggung jawab untuk mengembangkan standar
akuntansi.
Laporan keuangan harus
dikonsolidasikan, bersifat komparatif, dalam bahasa Cina dan dinyatakan dalam
mata uang Cina, Renminbi. Laporan keuangan tahunan harus diaudit oleh seorang
CPA Cina. Neraca, Laporan Laba Rugi dan Catatan Laporan setiap kuartal harus
dibuat oleh perusahaan yang sahamnya tercatat.
Pengukuran
Akuntansi
Metode penilaian wajib digunakan
untuk mencatat penggabungan usaha dan goodwiil harus dihapusbukukan selama
tidak lebih dari 10 tahun. Metode ekuitas digunakan jika kepemilikan terhadap
perusahaan lain lebih 20%. Biaya historis merupakan dasar untuk menilai aktiva
berwujud, FIFO, rata-rata, dan LIFO merupakan metode penentuan biaya
(persediaan) yang diperbolehkan. Aktiva tidak berwujud dicataberdasarkan harga
perilehannya dan diamortisasi selama tidak lebih dari 10 tahun. Biaya
penelitian dan pengembangan dibebankan langsung.
Tag :
Akuntansi Internasional,
DESKRIPTIP PEBANDINGAN SISTEM AKUNTANSI YANG DIGUNAKAN DINEGARA ASEAN
By : rosetia
1.
INDONESIA
Berdasarkan seajarah,
sistem akuntansi Indonesia didasari oleh sistem akuntansi Belanda sebagai hasil
dari pengaruh Belanda di negeri ini. Tetapi, ikatan antara kedua negara rusak
pada pertengahan tahun 1900. Indonesia berubah mengikuti praktik akuntansi AS.
IAI didirikan pada tahun 1959 untuk membimbing akuntan Indonesia. Pada tahun
1970 IAI membuat kode dan diadopsi oleh prinsip dan dasar akuntansi berdasarkan
GAAP As pada waktu itu. Sistem akuntansi Indonesia berfokus kepada informasi
yang dibutuhkan oleh investor diatas permintaan pemerintah. Pada tahun 1974,
IAI membuat komite standar akuntansi keuangan untuk membuat standar keuangan.
Indonesia telah membuat perkembangan ekonomi yang bagus pada dekade yang lalu.
Tetapi krisis fiansial asia membuat negara ini menuju ke arah kemiskinan. Sejak
krisis, Indonesia telah melakukan beberapa perubahan sosial dan politik. Yang
menghasilkan perubahan substansial dan merubah drajat kemakmuran sperti sebelum
krisis. Pada tahun 1994, komite standar akuntansi keuangan direkonstruksi
sebagai aturan standar akuntansi yang lebih independen atas IAI, sekarang DSAK
bekerja untuk mengharmonisasi standar akuntansi indonesia dengan IFRS.
2.
MALAYSIA
Meskipun Malaysia telah berjuang dalam sejarah,
negara ini telah mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dalam 30 terakhir ini.
Lebih jauh lagi, tingkat kemakmuran malaysia telah meningkat secara pesat.
Prospek beberapa tahun ke depan pun amat menjanjikan dengan antisipasi
pertumbuhan dalam GDP, Konsumsi pribadi dan investasi pribadi.
Seperti Indonesia, sistem resmi Malaysia berasal
dari Inggris. Seperti yang sudah diperkirakan, sistem akuntansi ini juga
membidik untuk bertemu dengan informasi yang diperlukan oleh investor. The
Malaysian Institute of Accounting (MIA) telah didirikan dibawah pengawasan
regular perkumpulan profesi akuntan di Malaysia.
Tapi, Malaysia merestrukturisasi system akuntansinya
pada tahun 1997 dengan Financial Reporting Act, yang dibuat oleh Fiancial
Reporting Foundation (FRF)/ Badan pelaporan keuangan dan Malaysian
Accounting Standart Board (MASB). FRF mengawasi pekerjaan MASB tetapi tidak
terlibat dalam proses standarnya. MASB adalah badan independen yang di ciptakan
untuk mengembangkan dan mengajukan standar akuntansi di Malaysia. Kerangka
kerja baru ini dibuat dengan proses standar yang representatif
dengan pengguna, pembuat kebijakan, dan akuntan.
3.
THAILAND
Thailand adalah salah satu negara di Aasia Tenggara
yang berhasil menghindari penjajahan. Tetapi sistem akuntansi di negara ini
menghargai transparansi dan kebutuhan informasi investor, mirip dengan negara
Anglo-Amerika. Setelah krisis keuangan tahun 1997. Thailand menerapkan
reformasi untuk meningkatkan kerjasama pemerintah dan meningkatkan investasi
untuk kompetisi. Perekonomian Thailand pulih dengan cepat dan mengalami
pertumbuhan yang bagus. Tingkat kemiskinan juga menurun sebagai akibat dari
penguatan ekonomi.
Standar akun dikeluarkan oleh ICAAT, yang didirikan
pada tahun 1948. tetapi, standar akuntansi Thailand harus disetujui oleh
menteri keuangan dan ditempatkan secara hukum sebelum perusahaan menggunakan
mereka. Sekarang ICAAT telah mengadopsi 21 dari seluruh standar IAS.
Komisi bursa saham Thailand mensyaratkan bahwa semua
perusahaan yang mendaftarkan diri pada SET (bursa saham Thailand) harus diaudit
oleh auditor eksternal dan independen. Lebih auh lagi perusahaan yang ingin
mendaftarkan diri dalam bursa harus memenuhi beberapa persyaratan yang
dibutuhkan oleh investor. Sebagai tambahan , ini sudah diptuskan bahwa
pengawasan perusahaan yang sudah masuk ke dalam bursa saham yang dulunya
dilakukan oleh menteri keuangan sekarang di pindahkan ke Thailand SEC yang mana
akan menghasilkan peraturan organisasi dan penekanan hukum ke perusahaan yang
sudah terdaftar dalam busrsa saham.
4.
FILIPINA
Standart akuntansi di Filipina yang diadopsi oleh
Filipina Standart Pelaporan Keuangan Council (PFRSC) dan disetujui oleh
Securites and Exchange Commission (SEC). The PFRSC telah membentuk komite
Filipina Interpretasi (PIC) yang mengeluarkan pedoman pelaksanaan pada PFRSC.
5.
SINGAPURA
Di Singapura, standar akuntansi dikenal sebagai
Singapore Pelaporan Standar Akuntansi Keuangan (SFR) dan didasarkan pada IFRS.
Semua perusahaan dengan periode keuangan yang dimulai pada atau setelah tanggal
1 Januari 2003 memiliki mematuhi SFRs.
Akrual berbasis akuntansi adalah salah satu pelaku
utama dari standar akuntansi Singapura. Laporan keuangan disusun atas dasar
akrual. Di bawah dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya diakui
ketika mereka terjadi (dan bukan sebagai kas atau setara kas diterima atau
dibayar) dan mereka dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam
laporan keuangan periode yang mereka berhubungan . Laporan keuangan yang
disusun atas dasar akrual menginformasikan pengguna tidak hanya transaksi masa
lalu yang melibatkan pembayaran dan penerimaan kas tetapi juga kewajiban untuk
membayar tunai di masa depan dan sumber daya yang merupakan kas yang akan
diterima di masa depan.
Set keseluruhan standar akuntansi di Singapura
mengandung sekitar 39 standar yang berbeda dengan masing-masing dinamakan
sebagai standar FRS X misalnya FRS 1. Setiap standar mencakup topik tertentu
seperti penyajian laporan keuangan, pengakuan pendapatan, akuntansi untuk
persediaan, dan sebagainya.
6.
BRUNEI DARUSSALAM
Brunei Darussalam Accounting Standar Council
(BDASC) didirikan pada tanggal 1 Agustus 2011 melalui penegakan Accounting
Standar Orde (ASO) 2010. BDASC bertugas untuk mengeluarkan aplikasi standar
akuntansi untuk perusahaan dan badan-badan lainnya yang ada di Brunei
Darussalam. Kementerian Keuangan mengumumkan bahwa Yang Mulia Sultan Brunei
Darussalam telah menyetujui untuk penegakan Standar Akuntansi Orde 2010.
Tujuan utama dari Accounting Standar Orde
adalah untuk mengawasi praktek dan profesi di sector jasa akuntansi oleh
akuntan public di Brunei, dan untuk memastikan bahwa akuntan public mematuhi
standard dan persyaratan prosedur yang ditentukan dalam kepentingan public. Langkah
itu di ambil dalam menegakkan perintah Sultan Brunei yang juga telah menyetujui
pembentukan komite, yaitu Komite Pemantau Akuntan Public yang akan bertanggung
jawab untuk mengawasi Akuntan Publik dan mengawasi praktik akuntansi.
Diharapkan bahwa Standar Akuntansi Orde 2010
di Brunei Darussalam akan membawa berbagai manfaat pada masyarakat. Termasuk
meningkatkan transparansi dan konsistensi dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan oleh perusahaan komersial untuk memungkinkan para pemangku
kepentingan untuk melakukan evaluasi , sementara pada saat yang sama memenuhi
persyaratan yang terkait.
7.
VIETNAM
Globalisasi membawa pengaruh
mendasar pada pergerakan informasi dan perpindahan
modal. Multi National Corporation (MNC)
beroperasi di berbagai negara dengan berbagai
macam standar pelaporan keuangan. Sementara itu
dalam pengambilan keputusan investasi, investor memerlukan
informasi ekonomi dari perusahaan terkait. IFRS (International Financial
Reporting Standards) menjawab tantangan bagaimana
pelaporan keuangan harus
dilakukan.
Arus besar dunia sekarang
ini sedang menuju ke dalam satu
standar pelaporan. Satu per satu negara di dunia saat ini mulai
mengadopsi IFRS.
Di Vietnam, dalam menyusun standar akuntansinya telah
mengadopsi IFRS. Standar akuntansi ini berlaku bagi semua jenis perusahaan
termasuk perusahaan yang terdaftar di bursa. IFRS (International Financial
Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk mempekuat arsitektur keuangan
global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi
informasi keuangan.
Adopsi penuh standar
akuntansi internasional adalah
mengadopsi standar akuntansi internasional
secara penuh tanpa adanya
perubahan-perubahan untuk diterapkan di suatu
negara. Adopsi dan implementasi standar akuntansi internasional
(IAS) yang sekarang menjadi International FinancialReportingStandard (IFRS)
bukanlah suatu yang mudah.
Tag :
Akuntansi Internasional,
