Popular Post

Posted by : rosetia Sabtu, 01 November 2014



1.       Agus Sudono
Agus Sudono lahir pada tanggal 3 Februari 1933. Beliau dibesarkan oleh kedua pasangan orangtuanya R.M. Darmohusodo dan Mujiatun di daerah sekitar pabrik gula. Sehingga sewaktu mulai kecil beliau sudah memperhatikan kehidupan para pekerja  pabrik gua tersebut. Menurut Agus, para pekerja pabrik gula itu tidak mempunyai kekuatan untuk memperbaiki penghasilan dan sulit menaikkan tingkat kesejahteraan. Beliau sangat prihatin akan hal tersebut. Sehingga dia menemukan suatu ide untuk membuat suatu wadah simpan pinjam yang sampai saat ini dikenal dengan INKOPAR (Induk Koperasi Karyawan).

2.       DR. Ir. H. Beddu Amang, M.A.
DR. Ir. H. Beddu Amang, M.A. adalah seorang pendiri Koperasi Pelayaran yang diketui oleh dirinya sendiri. Koperasi ini beranggotakan sebanyak 400 yaitu pemilik perahu layar motor dari seluruh indonesia  . Menurut beliau, koperasi sangatlah cocok dengan kondisi kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat  Indonesia. Secara sederhana, kopersi  memberikan rasa kebersamaan dan keharmonisan. Dalam usaha koperasi ini, beliau memberikan training kepada setiap anggota untuk memprofesionalkan usaha mereka. Selain itu , juga membantu mengusahakan memperoleh kredit sekaligus menata kehidupan mereka, tujuannya menciptakan kesejahteraan para anggota.

3.       Drh. H. Daman Danuwidjaja
Bapak Drh. H. Daman Danuwidjaja dibesarkan oleh kakeknya yaitu seorag peternak sapi perah yang merupakan seorang anggota koperasi. Beliau sering membantu usaha kakeknya seperti mengantarkan susu atau  mengambil uang langganan susu, sehingga beliau paham dalam bidang koperasi.  Pada masa pemberontakan G30 S/PKI koperasi mengalami kemunduran. Dalam penelitiannya tahun 1986, beliau beranggapan bahwa kemunduran koperasi pada masa disebabkan oleh adanya unsur politik, yakni pada saat itu terjadi perebutan kekuasaan.

4.       Eddiwan
Eddiwan adalah seorang yang memiliki komitmen teguh tentang koperasi.  Beliau  sangat dicintai dan dikagumi banyak orang. Meskipun rezim berganti, sistem perekonomian juga berubah, beliau tetap berpendapat sekali koperasi, tetap koperasi. Bapak Eddiwan aktif di koperasi sejak tahun 1944 dan mengembangkan sebuah koperasi perikanan yang beranggotakan para nelayan miskin. Beliau juga salah seorang penggagas pendirian Bank Koperasi yang sekarang dikenal dengan Bank Bukopin.
5.       J.K. Lumunon
Bapak J.K. Lumunon berpendapat bahwa Koperasi itu ibarat sepakbola. Tingkat kemampuan individu harus tinggi dan terus ditingkatkan, tetapi kerjasama jug harus dijalin dengan baik. Pelatih (motivator) mendorong dari luar lapangan, dan tidak aktif ikut bermain bersama baik individu maupun tim akan menentukan keberhasilan. Itulah pendapat J.K. Lumunon yang sepertinya telah menjadi kesimpulan baginya. Beliau memiliki suatu cita-cita untuk Indonesia yaitu agar koperasi benar-benar dapat menjadi sistem ekonomi nasional. Sebab, koperasi sebagai sitem adalah totalitas dari kumpulan orang yang secara bersama-sama meningkatkan kesejahteraannya.

6.       Ir. Mohammad Iqbal
Ir. Mohammad Iqbal  adalah seorang tokoh muda kelahiran Yogyakarta, 5 November 1955. Beliau juga merupakan bekas ketua Dewan Mahasiswa ITB Bandung tahun 1977, pernah menjadi ketua umum Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo). Pada tahun 1980  pernah diadakan seminar mengenai koperasi mahasiswa oleh Direktorat Jenderal Koperasi, dan saat timbul gagasan untuk mendirikan koperasi sekunder di kalangan pemuda dan mahasiswa, dan lahirlah Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) pada tanggal 11 Juni 1981. Selain berpengalaman di lapangan (Koperasi)  juga pernah mengikuti seminar dan latihan di dalam maupun di luar negeri, diantaranya latihan penyuluhan bagi pejabat koperasi di Jakarta dan seminar mengenai audit koperasi di Jerman Barat.
7.       Mubha Kahar Muang, SE.
Siapa yang tidak mengenal Mubha Kahar Muang, SE. Beliau merupakan seorang wanita yang sangat berpretasi dalam keterlibatannya di Koperasi Sopir Taksi Jakarta Raya (Kosti Jaya). Wanita kelahiran Ujung Pandang pada tanggal 7 April 1953 ini banyak terlibat di berbagai organisasi, mulai dari KNPI, Himpunan Wanita Karya, atau Kosgoro. Ia juga mematahkan  mitos tentang koperasi yaitu dalam hal yang serba membatasi.

8.       Muchtar Mandala
Koperasi  adalah untuk kesejahteraan anggota  tidak boleh rugi, harus bisa bersaing, dan harus professional.  Itu adalah pendapat  seorang Bapak Muchtar Mandala  yang lahir pada tanggal 5 Juni 1945 di  Pandeglang. Beliau sempat menjadi Direktur Utama Bukopin yang pernah mengalami permasalahan dalam menjalankan pekerjaannya. Ibarat biduk, Bukopin (Bank Umum Koperasi Indonesia) melaju diantara dua karang. Bukopin adalah bank umum, karenanya harus tunduk pada UU No. 14 Tahun 1967. Secara operasional, ia harus benar-benar mengikuti seluruh aturan perbankan. Sedangkan sebagai koperasi, Bukopin tunduk pada pemiliknya yaitu berbagai macam koperasi-koperasi di Indonesia. Berbeda dengan bank swasta lainnya yang membagi deviden diakhir tahun anggarannya, Bukopin membagi SHU (Sisa Hasil Usaha). Dan kalau bank swasta ada rapat umum pemegang saham, yang terjadi dalam Bukopin adalah rapat anggota tahunan (RAT). Lalu bagaimana Muchtar mengembangkan Bukopin sebagai bank milik koperasi sesuai dengan idealisme koperasi? Menurutnya, koperasi tetap merupakan lembaga usaha, karena itu tuntutannya pun harus seperti badan usaha yang lain, profesional. Nafasnya memang gotong royong, koperasi, tetapi jalannya harus tetap profesional.

9.       Prof. DR. Sri Edi Swasono
Siapa yang tidak mengenal Bapak koperasi indonesia  Moh. Hatta, Prof. DR. Sri Edi Swasono adalah menantu pertama dari Bung Hatta. Meskipun dekat, beliau ini sudah jauh jauh  mengenal tentang koperasi bahkan sebelum menikah dengan Meutia Farida Hatta, anak tertua Bung Hatta. Menurutnya, koperasi harus menjadi sokoguru perekonomian. Kesokoguruan itu merupakan konsekuensi logis dari ditetapkannya demokrasi ekonomi sebagai faham perekonomian nasional sejak mulai berlakunya UUD 1945, yaitu sebagai upaya merealisasikan cita-cita politik untuk mengubah perekonomian kolonial menjadi perekonomian nasional.

10.   Sukrisno Hadi
Sukrisno Hadi, salah seorang pendiri Koperasi Pegawai Perum Peruri (Kopetri) berpendapat, bahwa perlu dibentuk koperasi di bidang pekerjaannya yaitu PERURI (Percetakan Uang Repoblik Indonesia). Bahwa walaupun pegawai percetakan uang, tidak berarti pegawainya bisa mencetak uang seenaknya dan mendapat gaji yang melimpah, bahkan ada yang sampai berkekurangan. Berangkat dari masalah realita sosial para pegawai Perum Peruri tersebut Koperasi memang pilihan yang tepat. Bahkan tahun 1991, koperasi ini berhasil meraih predikat Koperasi Teladan Utama Nasional. Predikat itu diraih karena keberhasilannya mengembangkan unit-unit usahanya. Keberhasilan koperasi jangan dilihat dari aset dan laba bersihnya, tetapi sejauh mana koperasi itu menyejahterakan anggotanya.



sumber  : wordpress.com

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Rosetia Sinurat - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -