Popular Post

Archive for September 2015

HARGA BBM NAIK-TURUN, TERAPKAN KONSEP MANAJEMEN PENGELOLAAN WARKOP

By : rosetia
JAKARTA, KOMPAS.com -- Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, keputusan pemerintah kembali menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai bukti tak adanya konsep manajemen pengelolaan ekonomi yang baik. Bahkan, Enny mengeritik manejemen yang diterapkan pemerintah itu sama saja seperti manajemen warung kopi.

"Semakin tidak jelas mengelola negara. Ini manajemen warkop," ujar Enny saat dihubungiKompas.com, Jakarta, Jumat (27/3/2015).

Dia menjelaskan, gaya pemerintah mengelola negara, terutama ekonomi saat ini, cenderung reaktif dan hanya berorientasi jangka pendek. Salah satu kebijakan yang dinilai Enny reaktif adalah penghapusan subsidi BBM.

Menurut Enny, kebijakan penghapusan subsidi BBM membuat harga BBM dilempar ke harga pasar. Akibatnya, harga BBM naik-turun dengan mudah karena mengacu harga minyak dunia yang berfluktuasi. Apalagi kata dia, pengelolaan negara yang dilakukan pemerintah tak memiliki konsep yang jelas.

Bahkan, Enny menyebut pemerintah tak memiliki perencanaan kebijakan yang baik. Hal itu yang dinilai Enny sama dengan cara mengelola ala warkop yang terbilang sederhana.

"Karena dengan menghapus subsidi kan artinya tidak memperhitungkan secara komprehensif. Kita setuju pengurangan subsidi tapi kan kalau seperti ini tidak rasional," kata dia.

Pemerintah melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium untuk Wilayah Penugasan luar Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali (Jamali), naik masing-masing Rp 500 per liter dari harga lama.

Pelaksana Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), IGN Wiratmaja Puja mengatakan, harga solar naik menjadi Rp 6.900 per liter dari Rp 6.400 per liter. Sementara itu, harga bensin Premium RON 88 naik menjadi Rp 7.300 per liter dari harga Rp 6.800 per liter. (Baca: Di Luar Jawa, Madura, dan Bali, Harga Premium Jadi Rp 7.300 Per Liter, Solar Rp 6.900)

Wira menuturkan, keputusan tersebut diambil terutama atas dinamika dan perkembangan harga minyak dunia dan akan berlaku pada Sabtu (28/3/2015) mulai pukul 00.00 WIB.

Adapun untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali, harga BBM jenis premium naik menjadi Rp 7.400 per liter dari harga awal Rp 6.900 per liter. Harga solar di Jamali sama dengan yang ditetapkan di luar Jamali, yaitu Rp 6.900 per liter. (Baca: Harga Premium di Jawa, Madura, dan Bali Naik Jadi Rp 7.400 Per Liter, Solar Rp 6.900).

 Mengenai kenaikan dan penurunan harga BBM yang disampaikan oleh  pemerintah. Sebelumnya, harga BBM mengalami kenaikan yang disertai penolakan oleh masyarakat yang keberatan dengan kenaikan tersebut.

Bagi masyarakat penurunan harga BBM tentu sangat menyenangkan dengan harapan dapat mengurangi beban biaya hidup yang selama ini sudah mengalami kenaikan . Karena sebelumnya, saat kenaikan harga BBM untuk pertama kalinya di pemerintahan Jokowi dibarengi dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, tarif angkutan umum, dan lain-lainnya sebagai dampak kenaikan harga BBM.

Setelah harga BBM turun pada awal tahun baru, kini pemerintah kembali menurunkannya. Alasan yang sering didengar oleh masyarakat saat pemerintah menaikkan dan menurunkan harga BBM tidak jauh dari melihat perkembangan harga minyak mentah dunia dan mengurangi beban subsidi. Segala bentuk penurunan ini tentu disambut baik oleh masyarakat.

Namun yang menjadi masalah, bagaimana dengan konsekuensi harga kebutuhan hidup yang sudah  naik. Inilah yang membuat masyarakat menjadi bingung. Jika harga BBM mengalami penurunan, harus diikuti pula dengan penurunan harga di pasar. Begitu juga dengan komponen harga lainnya yang sudah  naik, termasuk tarif angkutan umum.

Pemerintah sebaiknya dapat mengontrol stabilitas harga agar menyesuaikan dengan penurunan harga BBM tersebut. Pengontrolan pemerintah lewat kementerian terkait harus betul-betul dilakukan agar dampak penurunan BBM itu benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat kecil. Jika tidak, penurunan itu tidak akan memberi dampak banyak pada masyarakat.

Sebaiknya, pemerintah beserta seluruh jajarannya, Kementerian ESDM, Menko Perekonomian, dan kementerian terkait lainnya diharapkan lebih serius merancang kebijakan ekonomi terkait harga BBM. Tidak terlalu bagus juga jika harga naik turun seperti ini dalam waktu yang singkat. Karena dampak dari naik turun tersebut akan mempengaruhi pada banyak hal.

Sumber:

1. Yoga Sukmana.2015."Harga BBM naik lagi,pemerintah dinilai terapkan menejemen "warkop".Kompas.27 Maret 2015

2. http://bisniskeungan.kompas.com/read/2015/03/27/222610026/Harga.BBM.Naik.Lagi.Pemerintah.Dinilai.Terapkan.Manajemen.Warkop.

3. http://m.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/01/21/niijcd6-harga-bbm-naik-turun-masyarakat-bingung.

- Copyright © Rosetia Sinurat - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -