Archive for November 2015
SINTAKSIS BAHASA INDONESIA
By : rosetia
Istilah
sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti mengatur
bersama-sama. Struktur internal kalimat
yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Jadi frasa adalah objek kajian
sintaksis terkecil dan kalimat adalah objek kajian sintaksis terbesar.
1. Frasa
Frasa
adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga
disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam
kalimat.
Contoh :
sedang membaca
Satuan bahasa sedang membaca adalah frasa karena
satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat.
A.
Frasa verbal
Frasa
verbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja. Frasa verbal
terdiri dari tiga macam seperti yang dijelaskan berikut ini.
·
Frasa
verbal modifikatif (pewatas) yang dibedakan menjadi.
·
Frasa
verbal koordinatif yaitu dua verba yang disatukan dengan kata
penghubung dan atau atau,
·
Frasa
verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan.
B.
Frasa
Adjektival
Frasa
adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat atau keadaan
sebagai inti (yang diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi
menerangkan sepertiagak, dapat, harus, kurang, lebih,
paling, dan sangat. Frasa adjektival mempunyai tiga jenis
seperti yang dijelaskan berikut ini.
·
Frasa
adjektival modifikatif (membatasi)
·
Frasa
adjektival koordinatif (menggabungkan)
·
Frasa
adjektival apositif
C.
Frasa
Nominal
Frasa
nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata
benda. Frasa nominal dibagi menjadi tiga jenis seperti yang dijelaskan berikut
ini.
·
Frasa
nominal modifikatif (mewatasi),
·
Frasa
nominal koordinatif (tidak saling menerangkan)
·
Frasa
nominal apositif, contohnya seperti berikut ini.
D.
Frasa
adverbial
Frasa
adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat.
Frasa adverbial dibagi dua jenis yaitu.
·
Frasa
adverbial yang bersifat modifikatif (mewatasi)
·
Frasa
adverbial yang bersifat koordinatif (tidak saling menerangkan)
E.
Frasa Pronominal
Frasa
pronominal adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti. Frasa pronominal
terdiri dari tiga jenis yaitu seperti berikut ini.
·
Frasa
pronominal modifikatif,
·
Frasa
pronominal koordinatif,
·
Frasa pronominal apositif,
F.
Frasa
Numeralia
Frasa
numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa
numeralia terdiri dari dua jenis yaitu.
·
Frasa
numeralia modifikatif,
·
Frasa
numeralia koordinatif,
G.
Frasa Introgativa koordinatif
Frasa
introgativa koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata tanya.
H.
Frasa
Demonstrativa koordinatif
Frasa
demonstrativa koordinatif adalah frasa yang dibentuk dengan dua kata yang tidak
saling menerangkan
I.
Frasa
Proposional Koordinatif
Frasa
proposional koordinatif dibentuk dari kata depan dan tidak saling menerangkan.
2. Klausa
Klausa
adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang
mengandung unsur predikatif . Klausa berpotensi menjadi kalimat. menjelaskan
bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan
bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak
diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita,
tanya, perintah, dan kagum.
·
Klausa
kalimat majemuk setara
Dalam
kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang
sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang
tidak saling menerangkan.
·
Klausa
kalimat majemuk bertingkat
Kalimat
majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa
lainnya.
·
Klausa
gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
3. Kalimat
Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran ,lebih
menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis.
Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai
berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata,
gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal
berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket,
baik unsur fungsi itu eksplisit maupun implisit; (2) satuan bahasa itu
didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh
kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi
final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum.
Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf
kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau
titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik
(.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).
·
Ciri-ciri
kalimat
1.
Dalam
bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. Dalam
bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik,
tanda tanya, atau tanda seru.
2.
Sekurang-kurangnya
terdiri007:147) dari atas subjek dan
prediket.
3.
Predikat
transitif disertai objek, prediket intransitif dapat disertai pelengkap.
4.
Mengandung
pikiran yang utuh.
5.
Mengandung
urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek,
prediket, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya.
6.
Mengandung
satuan makna, ide, atau pesan yang jelas.
7.
Dalam
paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun
dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan.
·
Fungsi
sintaksis dalam kalimat
Fungsi
sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh
bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis
adalah subjek (S), prediket (P), objek (O),pelengkap (Pel.),
dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua
fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat
adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan
keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan
dijelaskan berikut ini.
·
Subjek
Fungsi
subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau
dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah
sebagai berikut:
1.
jawaban apa atau siapa,
2.
dapat
didahului oleh kata bahwa,
3.
berupa
kata atau frasa benda (nomina)
4.
dapat
diserta kata ini atau itu,
5.
dapat
disertai pewatas yang,
6.
tidak
didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain,
7.
tidak
dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan
kata bukan.
Hubungan
subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain.
S
P
·
Predikat
Predikat
merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek.
Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah
ini.
Adik bermain.
S
P
Adik adalah
pokok kalimat
bermain adalah
yang menjelaskan pokok kalimat.
Prediket
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.
bagian
kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,
2.
dalam
kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,
3.
prediket
umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,
4.
dalam
kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,
5.
prediket
merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,
6.
prediket
dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok
kalimat) atau bagaimana (pokok kalimat).
·
Objek
Fungsi
objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif
pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba
transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh
di bawah ini.
Dosen menerangkan materi.
S
P
O
menerangkan adalah
verba transitif.
·
Pelengkap
Pelengkap
adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek,
dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek
karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi
untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan
pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.
Bu
Minah berdagang sayur di pasar pagi.
S
P
pel. ket.
·
Keterangan
Keterangan
adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat.
Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat.
Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh
berikut.
Ibu membeli kue di
pasar.
S
P O Ket. tempat
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf,
Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf,
Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa
Indonesia. Padang: Sukabina Press.
Widjono
HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.
SUMBER :
https://yusrizalfirzal.wordpress.com/2011/03/14/sintaksis-bahasa-indonesia/
Tag :
Bahasa Indonesia,
