Popular Post

Archive for Juli 2017

Analisis Perusahaan Multinasional

By : rosetia
Nama   : 1. Endah Lisma Yani
               2. Rosetia Sinurat
Kelas    : 4EB11
Objek   : PT. Acer Indonesia - Dharma Satya Nusantara Tbk
                                              Periode 2014
1.  Likuiditas adalah rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memnuhi kewajiban jangka pendek kepada kreditur yang harus segera dipenuhi. Rasio Likuiditas terdapat tiga rasio,  yaitu :
      a. Current Ratio
Perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio ini menunjukkan bahwa  nilai kekayaan  lancar  ada  sekian  kalinya  hutang. Secara sistematis dapat di rumuskan sebagai berikut : 
     Current Ratio :  Aktiva Lancar  x 100%
                                  Utang Lancar

Secara  kasar  dapatlah  dikatakan bahwa bagi perusahaan yang bukan kredit, Current Ratio kurang dari 200% dinyatakan kurang baik, pedoman  ini hanya didasarkan pada prinsip hati-hati. (Bambang Riyanto, 2001:26)
      b. Quick Ratio
Perbandingan     antara   aktiva   lancar   dikurang   persediaan    dengan   utang   lancar.   Apabila menggunakan  Quick  Ratio untuk  menentukan tingkat Likuiditas, maka secara umum dapatlah dikatakan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai Quick Ratio kurang dari 1:1 atau 100% dianggap kurang baik tingkat Likuiditasnya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
    Quick Ratio : Aktiva Lancar - Persediaan  x 100%
                                         Utang Lancar
      c. Cash Ratio
      Perbandingan antara  kas atau setara kas dengan utang lancar. Rasio ini menujukkan sebarapa besar  kemampuan  perusahaan  melunasi  utang  lancarnya dengan menggunakan  kas atau setara dengan kas yang dimilikinya. Secara sistematis  dapat  dirumuskan sebagai berikut :
    Cash Ratio : Kas atau Setara Kas  x 100%
                              Utang Lancar
Rata-rata industry untuk Cash Ratio adalah 50%, apabila Cash Ratio kurang dari rata-rata industri kondisi  perusahaan  kurang  baik  karena  untuk  membayar  kewajiban  masih memerlukan waktu untuk menjual sebagian dari aktiva lancar lainnya. 

2.   Solvabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut likuidasi baik untuk kewajiban jangka pendek dan jangka panjang. Rasio Solvabilitas didasarkan pada dua rasio, yaitu :
      a.    Total Assets to Debt Ratio
      Perbandingan antara  total aktiva  dengan  total  utang, baik  jangka  pendek  maupun jangka panjang. Semakin  tinggi  rasio ini  berarti semakin  besar  modal  pinjaman (utang)  yang  digunakan dalam menghasilkan keuntungan dibandingan aktiva yang dimiliki. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
       Total Asset To Debt Ratio : Total Aktiva  x 100%
                                                       Total Utang
Apabila  Total  Assets to Debt Ratio 100%, ini berarti  bahwa  jumlah kekayaan sama besarnya dengan jumlah utangnya, sehingga perusahaan tidak memiliki kelebihan aktiva diatas utangnya Perusahaan  harus  mengusahakan  Total  Assets  to  Debt Ratio lebih dari 100%, supaya bisa dinyatakan baik (Bambang Riyanto, 2001: 34).
  
      b.    Net Worth to Debt Ratio
Perbandingan  antara  modal  sendiri  dengan  jumlah  utang  yang  dimilik  perusahaan. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
       Net Worth to Debt Ratio : Modal Sendiri  x 100%
                                                      Total Utang
Penilaian Net Worth to Debt Ratio rasionya 1 : 2. Makin kecil persentasi ini berarti makin  cepat makin  cepat menjadi  insolvabel,  karena dengan adanya pengurangan yang  kecil  saja  dari nilai aktivanya,  perusahaan  sudah  dalam keadaan insolvabel  (Bambang Riyanto, 2001:34).
3.   Aktivitas   merupakan   rasio   yang   digunakan  untuk  mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan  aktiva yang dimilikinya. Berikut beberapa  jenis - jenis  rasio Aktivitas, yaitu :
     a.    Inventory Turnover ( Perputaran Persediaan)
Rasio antara jumlah harga pokok barang yang dijual dengan nilai rata-rata persediaan yang dimiliki perusahaan  (Munawir, 2004:77). Secara  sistematis  dapat  dirumuskan sebagai berikut :
       Inventory Turnover : Harga Pokok Penjualan
                                                       Persediaan
Rasio ini menunjukkan seberapa  cepat  perputaran persediaan  dalam  siklus  produksi normal. Semakin besar rasio  ini  semakin  baik,  karena   dianggap  bahwa  kegiatan penjualan berjalan cepat.

     b.    Fixed Assets Turnover (Perputaran Aktiva Tetap)
Rasio yang digunakan untuk mengukur  berapa  kali  dana  yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
       Fixed Assets Turnover : Penjualan Bersih
                                                     Aktiva Tetap
Rasio  ini  menunjukkan  berapa  kali  nilai  aktiva  berputar  bila  diukur dari volume penjualan. Semakin  tinggi rasio ini semakin  baik, karena  kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan tinggi.
4.    Rentabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan anatara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Dengan kata lain Rentabilitas adalah kemampuaan suatu perusahaan untuk mengahasilkan laba selama periode tertentu (Bambang Riyanto, 2001:35). Ada dua cara penilaian Rentabilitas :
      a.    Rentabilitas Ekonomi
Perbandingan  antara  laba  bersih  dengan  total modal. Pengertian  Rentabilitas Ekonomi  sering dipergunakan  untuk  mengukur  efisiensi  penggunaan  modal  didalam  suatu perusahaan, maka Rentabilitas  Ekonomi  sering  pula  dimaksud  sebagai  kemampuan  suatu  perusahaan  dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba (Bambang  Riyanto, 2001:36). Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
       Rentabilitas Ekonomi : Laba Bersih x 100%
                                               Total Modal

b.     Rentabilitas Modal Sendiri
Rentabilitas Modal  Sendiri atau sering juga dinamakan rentabilitas usaha  adalah  perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri disatu pihak  dengan  jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak (Bambang Riyanto, 2001: 44).
        Rentabilitas Modal Sendiri : Laba Bersih Setelah Pajak  x 100%
                                                                            Modal Sendiri
  
Data Ringkasan laporan Keuangan
PT. Acer Indonesia - Dharma Satya Nusantara Tbk
Periode 2014
(Dalam Jutaan Rupiah)
No.
Keterangan
2014
1.
Aktiva Lancar
1.820.758
2.
Utang Lancar
2.129.974
3.
Persediaan
672.431
4.
Kas atau Setara Kas
269.731
5.
Total Aktiva
6.117.953
6.
Total Utang
4.288.416
7.
Modal Sendiri
211.970
8.
Harga Pokok Penjualan
340.687
9.
Penjualan Bersih
1.238.413
10.
Aktiva Tetap
1.844.107
11.
Laba Bersih
150.992
12.
            Total Modal
1.829.537

1.    Likuiditas (Dalam Jutaan Rupiah) :
       a. Current Ratio : 1.820.758  x  100 %   = 85,48 % (Kurang Baik)
                                    2.129.974
  
       Analisis : Pada tahun 2014 Current Ratio sebesar 85,48% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang   lancar dijamin oleh Rp. 0,8548 aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa current ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hasil yang diperoleh kurang  dari 200%. Sehingga hal ini menunjukan bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi hutang lancar yang dijamin oleh aktiva lancar.

b. Quick Ratio : 1.820.758 - 672.431  x 100 %   = 53,91 % (Kurang Baik)
                                   2.129.974

Analisis : Pada tahun 2014 Quick Ratio sebesar 53,91% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp. 0,5391 aktiva lancar setelah dikurangi persediaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa quick ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hasil yang diperoleh kurang  dari 100%. Sehingga hal ini menunjukan bahwa aktiva lancar perusahaan setelah dikurangi persediaan tidak mampu menjamin hutang hutang lancar perusahaan.
  
c. Cash Ratio :  269.731   x 100 %  = 12,66 % (Kurang Baik)
                       2.129.974

Analisis : Pada tahun 2014 Cash Ratio sebesar 12,66% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang lancar dijamin oleh Rp. 0,1266 kas atau setara kas yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa cash ratio perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hasil yang diperoleh kurang  dari 50%. Sehingga hal ini menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang lancar dengan kas atau setara kas kurang baik.
2.    Solvabilitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
       a. Total Asset To Debt Ratio : 6.117.953   x 100 %   = 142,66 %   ( Baik )
                                                       4.288.416

Analisis : Pada tahun 2014 Total Asset To Debt Ratio sebesar 142,66% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang dijamin oleh Rp. 1,4266 aktiva perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa Total Asset To Debt Ratio perusahaan dalam kondisi  baik, karena hasil yang diperoleh lebih  dari 100%. Sehingga hal ini menunjukan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya dapat terpenuhi.

b. Net Worth To Debt Ratio : 211.970  x 100 %  = 4,94 %   ( Insolvabel )
                                             4.288.416

Analisis : Pada tahun 2014 Net Worth To Debt Ratio sebesar 4,94% yang berarti setiap Rp. 1,00 hutang dijamin oleh Rp. 0,0494 modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa Net Worth To Debt Ratio perusahaan dalam kondisi insolvabel, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan perusahaan tidak selalu bergantung kepada modal sendiri.
3.   Aktivitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
       a. Inventory Turn Over : 340.687   = 0,5066  Kali   ( Kurang Baik )
                                               672.431

      Analisis : Pada tahun 2014 Inventory Turn Over sebanyak 0,5066 kali yang berarti dalam satu tahun melakukan 0,5066 kali perputaran persediaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa Inventory Turn Over perusahaan dalam kondisi  kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kegiatan penjualan berjalan lambat.
       b. Fixed Asset Turn Over : 1.238.413  = 0,6715  Kali   ( Kurang Baik )
                                                   1.844.107
 
       Analisis : Pada tahun 2014 Fixed Asset Turn Over sebanyak 0,6715 kali yang berarti setiap Rp. 1,00 aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan sebesar Rp. 0,6715. Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa Fixed Asset Turn Over perusahaan dalam kondisi  kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan aktiva tetap menciptakan penjualan yang rendah.
4.    Rentabilitas (Dalam Jutaan Rupiah) :
       a. Rentabilitas Ekonomi : 150.992  x 100 %   = 8,25 %    ( Kurang Baik )
                                               1.829.537

      Analisis : Pada tahun 2014 Rentabilitas Ekonomi sebesar 8,25% yang berarti setiap Rp. 1,00 dapat menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 0,0825 dari total modal yang ada diperusahaan. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa Rentabilitas Ekonomi perusahaan dalam kondisi kurang baik, karena hal ini menunjukan bahwa kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba kurang maksimal.
  
       b. Rentabilitas Modal Sendiri : 150.992  x 100 %   = 71,23 %   ( Baik )
                                                         211.970
 
Analisis : Pada tahun 2014 Rentabilitas Modal Sendiri sebesar 71,23% yang berarti setiap Rp. 1,00 dapat menghasilkan laba sebesar Rp. 0,7123 dari modal sendiri yang tersedia. Dari hasil perhitungan menunjukan  bahwa Rentabilitas Modal Sendiri perusahaan dalam kondisi baik, karena hal ini menunjukan bahwa jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak.
   
Sumber :

- Copyright © Rosetia Sinurat - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -