Popular Post

Posted by : rosetia Minggu, 03 November 2013

Penjual Bubur Ayam dan Bubur Kacang Ijo

Aku sangat menyukai bubur ayam, baik bubur ayam Bandung ataupun bubur ayam Betawi. Dan favoritku adalah bubur ayam yang biasa mangkal di depan kantor. Saban pagi hari, aku akan mampir dulu ke sana untuk beli bubur ayam sebagai santap pagi.
Bubur ayam ini selalu ramai dikunjungi khalayak. Antriannya panjang, aku bisa menghabiskan waktu 15 menit untuk mendapatkan pesanan. Telat sedikit saja, aku harus menunggu sampai esok pagi. Kadang-kadang penjual bubur ayam tersebut juga menerima orderan yang sangat banyak. Pokoknya, penjual bubur ayam ini selalu kewalahan menghadapi pelanggannya. Sebenarnya, inilah yang membuat aku ingin mencoba bubur ayam ini ketika pertama kali ke sana, ya…antriannya itu! Itu kan tanda bubur ayamnya enak. Dan ternyata aku tidak salah pilih, bubur ayamnya memang lezat.
Di sebelah penjual bubur ayam ini, ada juga gerobak-gerobak lain, salah satunya adalah penjual bubur kacang ijo. Kontras sekali dengan tetangganya, gerobak bubur kacang ijo ini relatif sepi. Benar-benar beda!

Dan aku sangat takjub suatu kali. Ketika itu, aku sedang menunggu pesanan bubur ayamku. Si penjual bubur ayam saat itu benar-benar kewalahan. Orderannya benar-benar banyak. Ada yang minta dibungkus dan ada pula yang minta pesanan yang dimakan di tempat. Sementara itu, mangkoknya banyak yang belum tercuci.
Ketika itulah, sebuah bantuan datang. Si penjual bubur kacang ijo menawarkan beberapa mangkok kepada si penjual bubur ayam untuk dipakai. Tak hanya itu, dia pun lalu mencucikan mangkok-mangkok yang kotor. Tanpa diminta dan tanpa banyak bicara.
Pemandangan seperti itu ini tidak hanya terjadi satu dua kali saja. Setiap aku mampir ke sana dan penjual bubur ayam sedang kewalahan, penjual bubur kacang ijo selalu datang membantu. Dan ternyata, penjual bubur ayam mengakui bahwa tetangganya tersebut memang orang yang baik hati dan senang menolong. Ia tidak pernah menunjukkan kebencian ataupun persaingan yang tidak sehat walaupun mereka sama-sama menjual makanan untuk sarapan pagi.
Aku sungguh kagum dengan ketulusan melalui penjual bubur kacang itu. Ketulusan yang jarang sekali kutemui, apalagi di zaman sekarang yang penuh dengan persaingan. Pertolongan tanpa pamrih menjadi suatu barang langka yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang ikhlas. Kebanyakan orang akan menolong orang lain jika ada semacam simbiosis mutualisme alias untung sama untung. Malah ada juga yang hidup berdengki, yaitu tidak suka melihat orang lain bahagia.
Suatu hari saya pernah berfikir diantara kedua pedagang ini akan terjadi persaingan  tapi itu semua salah .
Tuhan sungguh adil buktinya bubur ayam ramai di kunjungi sekitar pukul 08:00 s/d 12:30.Sedangkan kalau bubur kacang ijo ramai pada pukul 15:00 s/d 20:00
Karenya saya merupakan pelanggan dari kedua pejual bubur tersebut saya dapat menulis kan perbandingan nya.



Bubur ayam:
·        Rasanya enak        
·        Harganya terjangkau
·        Halal
·        Higenis
·        Tempat strategis
·        Penjualnya ramah

Bubur kacang ijo:
·        Rasanya enak     
·        Harganya terjangkau
·        Halal
·        Higenis
·        Penjualnya ramah
·        Tempat tidak terlalu strategis karena mereka hanya menggunakan gerobak sedangkan bubur ayam mempunyai tempat yang agak luas


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Rosetia Sinurat - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -