Popular Post

Archive for Januari 2014

By : rosetia

Soft Skill

1).Analisis Perusahaan Bubur Jagung.
                Dari Pengamatan wirausaha yang saya lakukan, yaitu usaha Bubur Jagung. Saya menarik kesimpulan bahwa dari usaha yang bapak …. Jalankan, mengalami prospect yang cukup baik, walaupun tidak jarang pula beliau mengalami kendala yang cukup sulit, tapi perjuangan beliau untuk tetap berusaha dengan maksimal. Semangat besar dan perjuangan itulah dia berhasil mengambil hasil yang baik.
                Pesan saya untuk usaha bubur jagung Bapak… agar tetap mempertahankan strategi bisnis yang ia terapkan, agar usaha yang ia jalankan terus berkembang dengan baik,pesan lainnya adalah untuk lay out toko dapat di perluas lagi agar bisa menampung banyak konsumen di dalamnya.
                Kesan saya terhadap usaha bubur jagung tersebut adalah bahwasanya selain menjual produk dengan rasa yang lezat dan bermanfaat, mereka juga memiliki strategi pemasaran yang kreatif dan beda dari usaha yang lainnya, contoh dalam pelayanan penjualan, mereka melayani pelanggan dengan pelayanan yang ramah serta kostum yang unik (Baju koko) untuk menarik minat pelanngan.

                Dan efek dari hasil pengamatan yang saya amati adalah tumbuh dalam diri saya untuk membangun jiwa wira usaha, karna secara tidak langsung beliau mengajarkan depada saya, bagaimana menjadi enternreneur yang baik, dan tidak selamanya orang sukses itu adalah orang yang bekerja di kantoran, akan tetapi kesuksesan itu juga bisa di raih dengan cara menuangkan kreatifits yang kita miliki dalam ber wirausaha.
By : rosetia

Keluarga sebagai Media Pendidikan


     Keluarga adalah media pendidikan yang paling utama, bahkan banyak ahli pendidikan mengatakan kalau seseorang jika dalam keluarga tidak dididik secara optimal maka dalam tahap selanjutnya akan sulit dididik pula, dan sebaliknya, jika pendidikan dalam keluarga berjalan optimal, maka pendidikan di media lain tak akan terhambat.
Apa yang menjadi kekurangan keluarga ?
1. Kedekatan personal dengan anak
2. Kontrol sosial
3. Akomodasi minat anak
4. Pengetahuan dan penerapan tentang nilai nilai luhur
     Kedekatan personal dengan anak sangat perlu untuk dioptimalkan, karena ketika anak sudah dekat secara personal dengan keluarganya maka keluarga akan lebih mudah dalam mendidik anak, dalam menanamkan nilai nilai yang luhur yang harus dimiliki anak, selain itu pula anak akan sering bercerita tentang masalah kehidupannya di luar keluarga, sehingga orang tua dapat mengetahui keadaan yang dialami anak dan lebih mudah dalam memberikan kontrol.
     Dan untuk mendekatkan secara personal dengan anak, harus dipahami bahwa seseorang akan dekat dengan seseorang yang lain jika seorang yang lain itu dapat memuaskan kebutuhannya, entah itu secara jasmani maupun rohani. Maka jika keluarga dalam keadaan yang secara jasmani mampu mencukupi kebutuhan anak tetapi masih belum dekat, hal itu berarti kebutuhan anak secara rohani belum terpenuhi, dalam hal ini orang tua dibutuhkan kehadirannya untuk anak secara efektif dan mengena, dan pendekatan ini hendaknya disesuaikan dengan kepribadian anak (yang tentunya, orang tua lebih tahu daripada penulis).
     Kontrol sosial, bukan berarti mengekang anak dalam seluruh kehidupannya, melainkan meluruskan ketika anak melakukan penyimpangan terhadap nilai nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dan hal ini sangat penting dengan tujuan anak tetap berada di dalam nilai nilai luhur dan tidak terjerumus secara berulang dalam penyimpangan sosial.
     Kontrol sosial harus dilakukan dengan cara cara yang bijak. Cara yang paling bijak adalah orang tua memberitahu kepada anak mengenai penyimpangan yang dia lakukan kemudian orang tua juga menerapkan hal yang sama, secara mudah hal ini dikatakan sebagai keteladanan. Contoh kecil, tidak tepat jika orang tua mengingatkan anaknya untuk tidak mengatakan hal hal yang kotor, tetapi orang tua sendiri berkata kotor. Kemudian mengenai cara memberitahu anak, pada awalnya hendaknya dilakukan dengan lemah lembut, apalagi jika anak masih berusia kecil, sedangkan jika sudah menginjak masa remaja, haruslah diperhatikan beberapa hal, yaitu kepribadian anak dan keterikatan anak terhadap penyimpangan yang ia lakukan. Untuk apa ? Supaya porsi yang orang tua berikan pada anak adalah porsi yang pas, analoginya, tidak perlu menggunakan mobil untuk memecahkan kacang kenari, begitu pula jika hendak memcahkan kelapa dengan gunting, tentu tidak akan pecah.
     Akomodasi minat anak mencakup empat hal, yaitu pengakuan dan dukungan terhadap minat anak, serta pengawasan dan pemberian fasilitas kepada anak dalam menjalani minatnya. Dan hal ini adalah hal yang perlu penulis garis-bawahi karena banyak anak yang merasakan minatnya tidak terakomodasi dengan baik. Banyak siswa SMA yang berminat untuk melanjutkan studinya ke bidang Ilmu Pengetahuan Sosial atau Bahasa begitu memberitahukan (dengan tujuan meminta restu) kepada orang tuanya, langsung minatnya ditolak mentah mentah karena orang tua menghendaki anak untuk melanjutkan studi ke bidang Ilmu Pengetahuan Alam.
     Sangat boleh ketika orang tua khawatir ketika anak di masa depan tidak dapat menghidupi dirinya sendiri dan keluarga, tetapi kekhawatiran ini lantas tidak boleh dijadikan alasan yang saklek untuk melarang anak menjalani minatnya. Orang tua hendaknya mempelajari (dalam artian memperluas informasi) tentang minat yang anak tuju, dan mempertimbangkan hal hal positif dan negatif dari informasi yang didapat, kemudian mengajak anak bertukar pikiran mengenai minatnya supaya terjalin tukar informasi, dan orang tua harus berlapang dada jika memang minat anak dapat memberikan kecukupan (atau bahkan kelimpahan) ketika hidup di masa depan nanti.
     Yang perlu diingat orang tua dalam masalah minat anak adalah tidak semua orang dalam suatu bidang itu sukses semua, dan tidak semua orang dalam suatu bidang itu gagal semua. Semua orang mempunyai kemampuan untuk sukses dari jalan yang ia mau, dari hal yang ia minati. Tidak semua dokter sukses, dan tidak semua seniman gagal.
     Dan supaya bisa lebih percaya dengan anak dan minatnya, hendaknya orang tua memberikan anaknya tantangan untuk melakukan hal yang bisa membuktikan potensi anak dalam minatnya, sebagai contoh jika anak berminat untuk menjadi atlit lari, maka tantang anak dalam hari tertentu untuk lari memutari lapangan tertentu sebanyak jumlah tertentu dengan batas waktu tertentu, jika anak mampu untuk melewati tantangan, maka orang tua harus rela hati mengizinkan anak dan mendukungnya secara penuh untuk menjalani minatnya. Namun, tantangan yang diberikan haruslah tantangan yang masuk akal tetapi tidak terlalu mudah, contoh tadi, tidak masuk akal jika tantangan yang diberikan adalah lari sejarak 400 meter dalam waktu setengah menit, dan terlalu mudah jika tantangan yang diberikan adalah lari sejauh 1 kilometer dengan batas waktu satu jam.
     Pengetahuan dan penerapan nilai nilai luhur adalah hal yang paling pokok dalam pendidikan dalam keluarga, karena tentu tanpa pengetahuan, arah pendidikan keluarga akan kabur dan tidak bisa disebut sebagai pendidikan yang sebenarnya, dan tanpa adanya penerapan, maka anak akan cenderung melihat penerapan orang tua, dan meniru penerapan yang ada. Maka hal ini sangat perlu diperhatikan, dan harus dinomor-satukan dalam pendidikan dalam keluarga.


By : rosetia
LELUCON POLITIK

     Menulis bertemakan politik sebenarnya bukan hal sulit. Banyak lelucon politik yang bisa kita kupas secara panjang lebar. Tentang persiden sebuah negara yang begitu dogol misalnya. Atau tentang seorang tokoh politik yang dengan berbagai cara mencari muka. Yang seperti itu tak sulit kita cari bahan-bahannya. Tinggal buka koran, nonton televisi atau klik sebentar di internet maka akan segera bermunculan lelucon badut-badut politik. Tetapi sungguh, sekarang ini saya sangat tak tertarik menulis tentang politik. Kok sekarang ini? Ya, sebab jaman masih sekolah dahulu saya senang sedikit bersinggungan dengan politik. Banyak teman dan guru-guru yang menyangka bahwa suatu saat nanti saya akan terjun ke dunia politik. Beberapa guru bahkan telah menyebut nama-nama partai yang cocok untuk sebagai kendaraan saya. Tetapi saya ternyata di kemudian hari berpikiran lain. Saat ini saya tak suka bersinggungan dengan politik. Entah besok.

     Ya, politik selalu punya kepentingan. Karenanya saya tak senang terhadapnya. Saya bermalas diri untuk menulis hal yang menyinggung permasalahan politik. Entah siapa pun itu, selama berbicara masalah politik maka dia telah masuk ke ranah politik. Karenanya dia pasti punya kepentingan. Kepentingan untuk negara, kelompok maupun kepentingan pribadinya. Sementara anggapan saya, kepentingan pribadi adalah yang paling mendominasi. Seorang pengamat politik, misalnya, akan menjual nama lewat tulisan serta komentar-komentarnya. Tentu harapannya, suatu saat akan ada yang membeli diri dan suaranya. Ini sangat bisa dimaklumi bukan, Kawan?

     Sebab setiap kita punya kepentingan. Meski banyak yang bilang dahulukan kepentingan umum dan negara, tetapi itu kecil kemungkinan pada tataran kenyataan. Maka selama masih belum kuat secara ekonomi, ada baiknya saya tak bersinggungan dengan masalah politik. Ya, meski hanya sebatas tulisan di blog sederhana ini. Sebab masih banyak tema besar lain yang sesungguhnya bisa kita angkat. Tentang pulau yang terjual, tentang kerusakan alam yang sengaja dilakukan, tentang punahnya banyak habitat asli flora dan fauna, tentang dan masih banyak lagi yang lainnya. Psikologi dan pemikiran masyarakat, tentang perkonomian keluarga entah siapa, dan lain sebagainya.

     Membangun Indonesia tak harus bersinggungan dengan politik. Sebab politik itu kotor. Harus tega membunuh kawan sendiri, membantai teman sejalan jika memang diperlukan. Makan uang yang tak jelas halal atau haram, harus berani menggunting dalam lipatan. Sedang saya tak tega akan kesemuanya. Sekarang ini, dan entah nanti. Dan begitulah politik. Tak sadar bahwa kita membencinya, namun selalu bergumul dengannya. Seperti tulisan pendek ini misalnya. maunya lari dari tema politik, tetapi justru mengkampanyekannya. Politik dan diri kita, seperti pantai dan lautannya. Tak akan mampu terpisahkan diantara keduanya. Manusia adalah makhluk politik.


     Sekarang saya tanya, apakah Anda, Kawanku semuanya, tak suka akan politik? Bohong jika jawabannya “tidak!”. Menjawab pertanyaan saya berarti Anda telah terjebak dan terjerembab. Dalam jurang politik. 

- Copyright © Rosetia Sinurat - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -