Posted by : rosetia
Jumat, 17 Januari 2014
LELUCON
POLITIK
Menulis
bertemakan politik sebenarnya bukan hal sulit. Banyak lelucon politik yang bisa
kita kupas secara panjang lebar. Tentang persiden sebuah negara yang begitu
dogol misalnya. Atau tentang seorang tokoh politik yang dengan berbagai cara
mencari muka. Yang seperti itu tak sulit kita cari bahan-bahannya. Tinggal buka
koran, nonton televisi atau klik sebentar di internet maka akan segera
bermunculan lelucon badut-badut politik. Tetapi sungguh, sekarang ini saya
sangat tak tertarik menulis tentang politik. Kok sekarang ini? Ya, sebab jaman
masih sekolah dahulu saya senang sedikit bersinggungan dengan politik. Banyak
teman dan guru-guru yang menyangka bahwa suatu saat nanti saya akan terjun ke
dunia politik. Beberapa guru bahkan telah menyebut nama-nama partai yang cocok
untuk sebagai kendaraan saya. Tetapi saya ternyata di kemudian hari berpikiran
lain. Saat ini saya tak suka bersinggungan dengan politik. Entah besok.
Ya,
politik selalu punya kepentingan. Karenanya saya tak senang terhadapnya. Saya
bermalas diri untuk menulis hal yang menyinggung permasalahan politik. Entah
siapa pun itu, selama berbicara masalah politik maka dia telah masuk ke ranah
politik. Karenanya dia pasti punya kepentingan. Kepentingan untuk negara,
kelompok maupun kepentingan pribadinya. Sementara anggapan saya, kepentingan
pribadi adalah yang paling mendominasi. Seorang pengamat politik, misalnya,
akan menjual nama lewat tulisan serta komentar-komentarnya. Tentu harapannya,
suatu saat akan ada yang membeli diri dan suaranya. Ini sangat bisa dimaklumi
bukan, Kawan?
Sebab
setiap kita punya kepentingan. Meski banyak yang bilang dahulukan kepentingan
umum dan negara, tetapi itu kecil kemungkinan pada tataran kenyataan. Maka
selama masih belum kuat secara ekonomi, ada baiknya saya tak bersinggungan
dengan masalah politik. Ya, meski hanya sebatas tulisan di blog sederhana ini.
Sebab masih banyak tema besar lain yang sesungguhnya bisa kita angkat. Tentang
pulau yang terjual, tentang kerusakan alam yang sengaja dilakukan, tentang punahnya
banyak habitat asli flora dan fauna, tentang dan masih banyak lagi yang
lainnya. Psikologi dan pemikiran masyarakat, tentang perkonomian keluarga entah
siapa, dan lain sebagainya.
Membangun Indonesia tak harus bersinggungan dengan politik. Sebab
politik itu kotor. Harus tega membunuh kawan sendiri, membantai teman sejalan
jika memang diperlukan. Makan uang yang tak jelas halal atau haram, harus
berani menggunting dalam lipatan. Sedang saya tak tega akan kesemuanya.
Sekarang ini, dan entah nanti. Dan begitulah politik. Tak sadar bahwa kita
membencinya, namun selalu bergumul dengannya. Seperti tulisan pendek ini
misalnya. maunya lari dari tema politik, tetapi justru mengkampanyekannya.
Politik dan diri kita, seperti pantai dan lautannya. Tak akan mampu terpisahkan
diantara keduanya. Manusia adalah makhluk politik.
Sekarang saya tanya, apakah Anda, Kawanku semuanya, tak suka akan
politik? Bohong jika jawabannya “tidak!”. Menjawab pertanyaan saya berarti Anda
telah terjebak dan terjerembab. Dalam jurang politik.
